Saya lupa saat kamu membuat saya merelakannya, kamu kembali membuat hati ini jatuh, dan kini saya hanya menunggu waktu hingga saatnya kamu patahkan hati ini kembali, seperti kemarin dia melakukannya....
8 tahun mungkin tidak akan pernah berarti apapun untuk kamu saat ini Mungkin saat ini logikamu benar Sekuat apapun aku mempertahankan jika logikamu benar pasti kamu akan benar Aku pikir mencintai itu adalah proses belajar seumur hidup Jika ada yang melenceng maka satu akan menuntun Mungkin 2-3 tahun yang kamu bahas itu kamu sudah berikan semua rasamu untuk aku Maka aku jadi seterlena itu Membuatku berlaku seenaknya katamu Aku tidak akan membela diri pada masa ini karena dititik terakhir salahku banyak Tapi boleh aku merasa dunia tidak adil? Ketika memang ada salahku kamu bisa membuangku saat ini Terlalu panjang cerita kita tapi aku masih ingat dengan jelas bagaimana aku memaafkan kesalahanmu berkali kali Yang mungkin dulu jika aku menggunakan logikaku seperti kamu sekarang maka hubungan ini sudah lama selesai Ya kalau bahas ini aku sudah tau jelas maka jawabanmu pasti kamu bukan aku 2-3 tahun usahamu, aku masih terus ada disampingmu Masih mengusahakan semua rencanamu Seingat...
Banyak hal yang masih belum bisa ku cerna Harus tetap hidup ditengah kenangan kita yang terlalu banyak Bagaimana harus tetap hidup kalau teman yang berjanji menemaniku hidup sudah tidak ada Sakit saat tau kamu sudah tidak lagi butuh aku Kamu begitu asing saat bicara malam itu Sudah sebenci itukah kamu denganku? Kata maaf mungkin tidak akan lagi bisa mewakili Bagaimana kamu hari ini? Sudah bahagiakah kamu tanpa aku bab? Sudahkah kamu menikmati kebebasan itu? Memang sepertinya kamu jauh lebih bahagia tanpa adanya aku Apakah berarti nantinya wistlist kita untuk sekedar menonton konser hanya akan jadi mimpi buatku bab? Apakah wangi parfum yang melekat dijaketmu tidak akan pernah lagi aku rasakan? Lagu-lagu favorite kita bukan lagi favorite ku kini Makanan kesukaanmu tidak lagi aku sukai Akhirnya aku memang akan tetap hidup, tapi memang hanya sekedar untuk hidup Tapi yang aku belum ketahui sampai kini, apakah aku sanggup melihatmu berhagia dengan wanita beruntun...
Ketika usia hampir genap dua lima Lalu lalang orang menuntut untuk dewasa Harapan seringkali dalam wujud ilusi yang bertikai dengan realita Aku disini masih berdiri memilih mauku sendiri atau mengamini kata mereka Hidupku tidak lagi sekedar minum susu dan menumpuk novel Menggambar yang tidak lagi menggugah hari Hidup monoton dalam seragam yang tidak bisa dihindari Harus mempasrahkan diri berteman dengan banyak gelas kopi Ketika usia hampir genap dua lima Satu persatu orang-orang itu lenyap dimakan cinta Sementara dia yang masih berasumsi harus puas dulu dengan masa mudanya Haruskah penantian berakhir bahagia?
Komentar
Posting Komentar